Oleh: Farid Gaban
WARTAWAN, KINI SEDANG MELAKUKAN PERJALANAN KELILING INDONESIA DALAM EKSPEDISI
ZAMRUD KHATULISTIWA
(www.zamrud- khatulistiwa. or.id)

Amarah kepada Malaysia berkaitan dengan "pencurian" khazanah seni dan budaya
Indonesia hanya mempertontonkan sikap kanak-kanak kita sebagai bangsa. Emosi
menggelegak atas kasus Manohara dan sengketa Ambalat, misalnya, hanya
menegaskan sikap rendah diri kita. Dan ini bukan sekali-dua berlangsung.
Narsisisme berlebihan dibarengi kecintaan semu belaka pada hal-hal yang
menyangkut identitas tradisional dan lokal negeri yang beragam ini tidak akan
menolong.

Kita sendiri kurang peduli kepada khazanah kekayaan alam dan budaya.
Menjelajahi Sumatera selama dua bulan lebih, sebagai bagian dari Ekspedisi
Zamrud Khatulistiwa, saya menyaksikan banyak pulau tak terurus, khazanah seni
budaya tradisional punah perlahan-lahan dalam sunyi, serta sejarah yang hilang
jejak tanpa bekas ditelan ketidakpedulian.

Pulau Enggano, pulau terluar di Samudra Hindia, hanya dijaga tiga serdadu
rendahan tanpa pekerjaan jelas. Jejak Portugis, yang pertama kali menemukan
pulau ini yang menyebutnya sebagai "pulau keliru" dalam bahasa mereka
(enggano), tak lagi bisa ditemukan. Budaya lokal hampir punah dihantui
kemiskinan kronis. Pertanian muram, nelayan tidak lagi menemukan ikan.

Saya hampir tidak bisa lagi menemukan jejak sejarah Barus, Sumatera Utara, kota
pelabuhan tua yang namanya harum dalam catatan perjalanan pengelana legendaris
Marcopolo dan Ibnu Battuta. Terkenal dengan kapur barusnya, dia juga merupakan
salah satu pintu masuk agama Islam di Indonesia. Barus, atau fanzur dalam
bahasa Arab, terabadikan dalam nama pujangga sufi terkenal Hamzah Fanzuri yang
lahir di sini. Tapi, sekarang di dekat Lobo Tua (kota tua), Makam Mahligai di
perbukitan, makam para bangsawan, saudagar dan ulama, hanya tersisa batu-batu
berinskripsi Arab tak terurus. Hampir tidak ada informasi bermakna di kota
kecamatan ini. Kota yang hilang dan tersesat.

Koto Tinggi, dekat Bukittinggi, seperti sebuah kota mati meski ini pernah
menjadi ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Hanya ada tugu besar
dan sebuah bangunan kecil tempat terpampang susunan kabinet Syafruddin
Prawiranegara. Bangunan kecil itu terlalu sederhana dan hanya bisa menjadi
tempat pemungutan suara dalam pemilu 2009 tempo hari.

Rumah Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia, di Pandan Gadang, Kabupaten
Limapuluh Kota, lapuk dimakan rayap dan usia. Tidak ada biaya untuk renovasi.
Sebagian ruang menjadi sarang satu-dua burung walet. Cicit Tan Malaka berharap
penjualan sarang burung walet bisa membiayai salah satu situs sejarah ini.

Di Banda Aceh, saya bertemu dengan Tarmizi Ahmad, seorang pegawai negeri yang
punya hobi mengoleksi naskah kuno atas inisiatif dan biaya sendiri. Sebagian
koleksinya, yang berusia seabad-dua abad antara, lain buku karya Nurruddin
Ar-Raniry, hilang waktu tsunami. Dia tak bisa ikut Pameran Kebudayaan Aceh yang
dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agustus lalu, karena tak bisa
membayar stan, dan memutuskan memamerkan koleksinya di rumah pribadi. Dia
merasa lebih dihargai oleh pemerintah Malaysia, Singapura, dan Brunei ketimbang
pemerintah Indonesia maupun Aceh.

Benteng Inong Balee, benteng laskar janda yang dipimpin Panglima Malahayati
pada abad ke-18, terbengkalai tak terurus meski menempati sebuah bukit
menghadap teluk yang indah tak jauh dari Kota Banda Aceh. Omo Hada, rumah
tradisional Nias di Hilinawalo Manzingo, kusam dan lusuh. Bangunan berusia 300
tahun ini merupakan adi-karya arsitektur tradisional dari kayu dan tahan gempa.
Penghuninya tak punya biaya untuk merawatnya. Bangunan ini masuk daftar 100
situs kuno yang terancam punah versi World Museum Watch tahun 2000.

Tengku Mohammad Fuad, salah satu ahli waris Kesultanan Riau di Pulau Penyengat,
mengeluhkan rendahnya kepedulian pemerintah kepada situs, sejarah, dan khazanah
sastra Melayu yang pernah berjaya di sini. Penyengat merupakan mata air sastra
dan bahasa Indonesia modern, salah satunya lewat ketekunan Raja Ali Haji
(1808-1873). Fuad masih menyimpan koleksi pribadi surat-surat dagang kuno yang
kini hanya dilapis plastik untuk mengurangi laju kelapukan, antara lain
kuitansi dan surat saham kepemilikan penambangan timah di Johor, Malaysia,
bertahun 1917. Meski makam, masjid, dan mushaf Al-Quran abad ke-19 masih
terawat bagus, Pulau Penyengat sudah kehilangan sebagian besar jejak sebuah
kesultanan Melayu terbesar. Ironi di tengah ambisi Malaysia untuk menjadi pusat
peradaban Melayu dunia di alam modern.

Pengabaian terhadap khazanah budaya digenapi dengan ketidakpedulian kepada
khazanah alam yang potensial menjadi daya tarik wisata lingkungan (ecotourism) .
Kepulauan Mentawai adalah salah satu paradoks. Kekayaan hayati yang hebat,
namun kemiskinan yang menyengat. Ini pulau yang dikenal dengan banyak
flora-fauna unik alias endemik, sering disebut sebagai Madagaskar-nya
Indonesia, mengilhami para ilmuwan dunia mencari konfirmasi teori evolusi
Charles Darwin. Taman nasional di Pulau Siberut, yang diproklamasikan oleh
UNESCO sebagai cagar biosfer warisan dunia, terbengkalai. Museum dan kantornya
rusak serta roboh tak diperbaiki setelah gempa besar 2007.

Resor dan jasa wisata alam, seperti selancar dan trekking, di Mentawai
(Sumatera Barat), Nias (Sumatera Utara), dan Simeulue (Aceh), lebih banyak
diminati oleh orang asing ketimbang investor lokal maupun pemerintah. Belasan
anggota kru sebuah televisi Prancis sedang membuat film tentang alam dan budaya
Siberut ketika saya sedang berkunjung ke sana, Juli lalu.

Dan itu semua baru sebagian kecil saja kekayaan serta keragaman khazanah alam,
sejarah, seni dan budaya yang kita sia-siakan. Indonesia, negeri kepulauan
terbesar di dunia, tampak bodoh dan kerdil. Dilihat dari luar, minimnya
kepedulian, kurangnya informasi dan pengetahuan tentangnya, menjadikan negeri
ini sama muram dan kusamnya dengan Museum Bahari di Pelabuhan Sunda Kelapa,
Jakarta.

Rendahnya tingkat kepedulian dibarengi dengan miskinnya keterampilan mengelola
informasi dan dokumentasi. Informasi, dalam bentuk museum, buku, dan produk
multimedia, adalah tulang punggung bisnis wisata. Meski Internet sudah demikian
maju, demikian pula saluran komunikasi dan teknologi media, kita masih
keteteran mengurus hal ini. Dan Malaysia tahu benar kelemahan Indonesia itu.

Negeri-negeri kecil seperti Malaysia dan Singapura sadar persis tak memiliki
kekayaan alam dan budaya sekaya dan seberagam Indonesia. Mereka tak perlu
memiliki Indonesia, cukup menjadi beranda dan pintu gerbangnya. Mereka
menjadikan Indonesia sebagai "halaman belakang", atau dapur dari bisnis wisata
besar, sementara mereka menjadi koki dan pemilik restorannya.

Emosi yang meledak-ledak, perang kata yang menggelora, caci-maki
kekanak-kanakan, tidak akan mengubah keadaan. Justru kita akan kelihatan makin
konyol. Lebih bagus jika energi sia-sia itu diubah menjadi gairah untuk
mengubah sikap kita dalam menghargai khazanah alam, budaya, dan sejarah sendiri
serta kemampuan untuk mengemasnya.

nasrah wrote on Sep 1, '09
Nice, mas Anto.... Boleh saya copy dan masukin ke facebook yahh?
moyas wrote on Sep 1, '09
Silakan, Dian.
mykatalinna wrote on Sep 3, '09
wew, bagus banget. Iya, kita memang terkadang bertindak baru berpikir. mencaci maki baru mengaca. padahal kita yang salah juga, gak memperhatikan kekayaan budaya. punya sepeda gak dikunci'giliran dimaling baru teriak2. haha.. repot juga sih.
Add a Comment